• SMP KRISTEN ANAK PANAH NABIRE
  • Takut akan Tuhan adalah Permulaan dari Pengetahuan

KISAH MAXIMUS & GLADIATOR PAPUA

TIDAK banyak anak muda Papua yang bermimpi menjadi pengusaha. Maximus Tipagau, pemuda kelahiran Bulapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, memiliki pilihan berbeda. Pilihannya sebagai pengusaha ternyata mampu membawanya hingga berkelana ke sejumlah negara. Bahkan dialah orang Papua pertama yang dengan uangnya sendiri membawa puluhan orang Papua untuk mementaskan budaya Papua di Eropa.

Pada umumnya anak-anak muda Papua lebih banyak memilih jalan hidup menjadi politikus atau birokrat ketimbang berkiprah sebagai seorang pengusaha. Kesuksesan politikus besar yang dimiliki Indonesia, memberi inspirasi bagi kebanyakan pemuda Papua untuk terjun menekuni dunia politik. Berbeda dengan seorang Maximus Tipagau, Pemuda asli kelahiran bumi Cendrawasih, yang justru memilih jalan hidup bertolak belakang dengan kebanyakan pemuda-pemuda Papua. Pilihannya meniti karis sebagai seorang pengusaha bukan tanpa alasan.

Berbagai proses kehidupan yang dihadapi Maximus untuk mewujudkan mimpinya, justru membawanya berkelana merantau ke berbagai negara di dunia. Bukan sekedar mimpi tapi betul-betul menjadi kenyataan, bagaimana seorang anak kecil yang melalui proses sulit dan berliku dalam kehidupannya, dari lingkungan terisolasi, kini menjadi salah satu orang yang diandalkan di lingkungan istana negara. Bukanlah suatu hal mudah apalagi melalui koneksi semata, namun betul-betul nyata terjadi. 

Kisah duka dan suka di masa kecil sampai bisa berada di lingkungan istana negara seperti sekarang ini, yang dituangkan oleh Maximus Tipagau ke dalam sebuah buku setebal hampir 450 halaman di cetak penerbit Rayyana, berjudul “MAXIMUS Dan Gladiator Papua”.

Ternyata pilihan Maximus dulu itu, kini benar-benar telah membawanya hingga berkelana ke sejumlah negara. Bahkan dialah orang Papua pertama yang dengan koceknya sendiri, membawa puluhan orang Papua mementaskan budaya Papua di Eropa. Lalu, siapa sangka ia kini bekerja di Istana Presiden menjadi staf dari Staf Ahli Presiden yang membidangi bisnis.

Di usianya yang belum 35 tahun Maximus pernah mendapat tugas memimpin delegasi ekonomi ke luar negeri untuk mengembangkan ekonomi Papua. Hanya sedikit generasi muda Papua yang memilih berkiprah menjadi pengusaha,seperti pemuda kelahiran Bulapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua ini. Buku setebal hampir 450 halaman dengan editor Salim Shahab dan Den Setiawan ini, yang membantu penyusunan buku ini, sebetulnya ada banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari kisah perjalanan hidup seorang Maximus Tipagau.

Ditengah masyarakat modern saat ini, dimana anak-anak hidup dalam alam penuh instan, semua serba ada dan mudah, justru kisah Maximus dalam buku ini mengajarkan tentang sesuatu hal yang bemama proses.

“Para orang tua, tenaga pendidik, dan anak-anak perlu sekali membaca buku ini. Ketika anak~anak dipacu untuk menjadi juara dan hebat dalam hal hard skill, jago di bahasa asing, ilmu pengetahuan, dan kemampuan akademis, tapi mereka lupa mengembangkan soft skill nya. Yakni bagaimana seorang anak bisa mengembangkan sikap, karakter, mengelola diri, mengatasi masalah pribadi dan lingkungan, cara berkomunikasi dengan orang, meyakinkan orang, dan lain sebagainya. Anak-anak banyak hidup dalam dunianya yang lebih banyak belajar dan bermain. Apalagi permainannya sangat personal, seperti Handphone, gadget, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Justru dalam buku ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Salim menambahkan bahwa buku ini mengajak pembaca untuk melihat sosok anak kecil yang unik, lucu, lugu, kadang gila, tapi dramatis dan sangat inspiratif.

“kemampuan soft skill inilah yang telah merubah kehidupannya secara dramatis", tambahnya. Kedramatisannya tampak dari perubahan nasibnya yang berbalik 180 derajat. Dari seorang anak yang nyaris tak punya masa depan, yatim piatu sejak usia tujuh tahun, diabaikan lingkungannya, tak tamat SD, buta huruf, hidup di daerah terpencil terisolir di Pegunungan Tengah Papua, namun berkat tekadnya yang kuat ia bisa mengubah hidupnya dengan caranya sendiri.” Beber Salim.

 

 

Buku ini bercerita tentang kisah hidup Maximus yang ditulis sendiri oleh Maximus, dibantu dua editor Salim Shahab dan Den Setiawan, tulisannya cukup berwama. Banyak kisah petualangan "ajaib” yang dialaminya di mana orang Papua sendiri amat jarang mengalaminya, karena halangan tradisi dan keterbelakangan. Diantaranya ada dikisahkan tentang saat berburu kuskus di masa kecil bersama ayahnya hingga ke tepi salju abadi di puncak Carstensz yang dingin dengan hanya berkoteka.

Berburu kuskus di malam hari hingga tak sengaja membakar kamp eksplorasi milk PT Freeport Indonesia hingga sempat ia diburu tentara menggunakan helikopter, padahal saat itu usianya masih delapan tahun. Bahkan pada bagian lain diceritakan pula bagaimana Maximus bisa bekerja di Freeport di saat usianya 14 tahun, ini  pun menjadi sisi yang menarik disimak.

Dilahirkan pada tahun 1983 di pegunungan tengah Papua dari suku Moni yang tinggal di wilayah yang terisolasi secara geografis. Keterpencilan itu membuat sarana pendidikan dan kesehatan sulit diperoleh. Namun demikian sang ibu tetap menyelipkan mimpi tentang pentingnya pendidikan meskipun tak begitu jelas apa target yang ingin dicapainya. Sementara sang ayah lebih memimpikannya menjadi panglima perang bak gladiator seperti dirinya.

Tapi mimpi itu berantakan ketika ayahnya meninggal setelah dikeroyok sekelompok orang yang menyabot tanahnya. Akibat insiden pengeroyokan, beberapa bulan sakit tanpa ada perawatan medis, sang ayah pun meninggal dunia. Lalu setahun setelah kematian ayahnya, ibu Maximus meninggal dunia karena infeksi rahim yang tak sempat mendapat perawatan medis.

Sepeninggal orangtuanya, hidup Maximus terkatung-katung. Sang adik dititipkan kepada neneknya. Sementara ia hidup sendiri dan untuk menyambung hidup, la meniadi kuli angkut barang yang biasa dilakukan oleh anak usia delapan tahun di lapangan terbang Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Barang yang dibawanya semacam tas penumpang, khususnya orang asing untuk dibawa sejauh 4-7 km dengan berjalan kaki.

Saat usianya bertambah, Freeport adalah lingkungan yang akrab dengan dirinya untuk bisa bertahan hidup. Disinilah penempaan mental dan kemampuan diri Maximus diuji. Hingga berkarir selama 14 tahun di Freeport, kemudian memutuskan mencari penghidupan baru sebagai pengusaha di bidang pariwisata.

Ia merasa profesi ini yang akan memberinya banyak kesempatan membantu orang-orang Papua, termasuk turut mengembangkan jiwa sosialnya di bidang lain. Teringat bagaimana ayah-ibunya meninggal karena tidak mendapat pelayanan medis yang layak, didirikan klinik di tanah kelahirannya yang terpencil di tengah tebing curam, termasuk mendirikan sekolah, meski SD yang dibangun dengan biaya sendiri ia namakan SD Inpres. Sayangnya, karena tak adanya guru dan tenaga medis yang mau bekerja di daerah terpencil, kedua sarana itu terbengkalai.

Menurutnya, itulah pentingnya pendidikan bagi warga pedalaman yang terpencil. Jika mereka yang jadi guru atau perawat, mereka tak akan kabur karena tempat tinggalnya di sana. Oleh karenanya itu menjadi alasan keinginannya memajukan warga di kampung halamannya terutama mendorong di bidang pendidikan dan ekonomi.

Kini posisinya yang cukup strategis, sebagai orang Papua yang bekerja di lstana Presiden, dirinya punya peranan untuk turut memajukan Papua dengan cara berbeda. ltulah Maximus Tipagau, tipe pemuda Papua yang unik dan inspiratif, contoh pemuda Indonesia dan dunia yang jarang ditemukan. “Mungkin saya diwarisi mental gladiator seperti ayah dan kakek saya,” kata Maximus tersenyum.

Tulisan Lainnya
Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 Muridnya

Pada suatu hari ada seorang guru bijak yang memiliki 3 murid terbaik, dia memberikan sebuah pertanyaan kepada muridnya. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang amat penting

01/10/2019 09:49 WIB - Administrator